Subiakto Priosoedarsono

ESSENSI DARI SOSMED MEMANG ORGANIK

Meneruskan konten Mas @kris.moerwanto

Gara-gara Elon Musk antipati terhadap iklan, Model Bisnis Twitter –platform social media yg baru dibelinya— terancam berantakan.

Gambar: kris.moerwanto

Seperti diketahui, Model Bisnis andalan Twitter selama ini ada dua: Mengandalkan iklan (porsinya hampir 90%). Sementara sisanya, dari hasil “menjual” data behavior pengguna kepada pengiklan.

Gambar: kris.moerwanto

Tapi sejak Elon Musk resmi jadi owner Twitter, kampanye “mengharamkan” iklan, langsung dikumandangkan.

Intinya, Elon Musk tidak suka bisnis Twitter terlalu tergantung kpd iklan.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pendapatan iklan, sama bermasalahnya seperti problem konten hoax, hate speech serta merajalelanya akun robot/siluman.

Elon Musk bahkan sudah mendeklarasikan: ke depan porsi pendapatan iklan di Twitter akan dipangkas shg tersisa 40% saja. Sementara mayoritas revenue Twitter, justru akan digenjot dari pendapatan non-iklan.

Gambar: kris.moerwanto

Setidaknya ada 3 usulan revenue baru yg ditawarkan Elon Musk untuk mengkompensasi berkurangnya pendapatan iklan. Ke-3-nya kontroversial semua.

Yang pertama, dengan menarik biaya pihak yg mengutip (meng-quote) cuitan seseorang.

Yang kedua, dengan mewajibkan pengguna dari kalangan bisnis/korporasi dan Pemerintahan membayar, jika ingin bisa memposting cuitannya.

Yang ketiga, dengan mengutip biaya berlangganan (subscripton).

Kenapa ke-3-nya berpotensi memicu kontroversi?
Sebab argumentasi yg disampaikan Elon Musk, justru berlawanan dengan yang dijanjikannya sendiri.

Bahwa di bawah kepemilikannya, Twitter dijanjikan akan jadi platform yg menjamin kebebasan berpendapat (free speech) bagi siapa pun.

Tapi, jika betul Free Speech dijamin, kok mengutip twit justru dikenai biaya?

Jika betul Free Speech dijamin, kok kalangan pebisnis dan Pemerintah dimintai bayaran?

Kalau toh diharuskan membayar, bagaimana kriteria pembeda antar-level korporasi? Apa ukuran penentu besarnya biaya yg harus mereka bayar?

Bahkan tawaran layanan berlangganan pun, dinilai tidak fair. Karena terkesan menganak-tirikan layanan dan kenyamanan standar yang menjadi hak pengguna gratisan, yg jumlahnya justru mayoritas.

Gambar: kris.moerwanto

Bagaimana kelanjutan drama tersebut? Mari kita tunggu.

#AtlasBehavioralScience
#behavioralsciencepaten

#subiakto #praktisibranding